oleh

Waspadai Anak Terpapar Bisa Pacu Klaster Keluarga

SIBERINDO, MAKASSAR — Kasus anak terpapar naik signifikan. Kasus ini memicu pertumbuhan klaster keluarga. Dengan tingkat prokes yang kurang sempurna oleh anak, kerentanan terhadap mereka pun akhirnya membuat terpapar.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Makassar, dr Nursaidah mengatakan peningkatan kasus pada anak di Makassar naik signifikan.

Kenaikan dipicu oleh varian delta yang membuat proses penularan makin cepat. Menurut data yang dicatat Diskes Makassar, sebut Nursaidah, kasus klaster keluarga ditemukan anak terinfeksi.

“Pada umumnya, virus sama semua jika daya tahan tubuh turun maka bisa terpapar. Nah begitu pun pada anak.Karena banyaknya klaster keluarga maka otomatis jika ada anak usia di bawah 17 tahun artinya terkonfirmasi,” katanya, Sabtu, 24 Juli.

Data klaster keluarga ini belum sepenuhnya direkap. Namun pihaknya melihat ternyata banyak anak menjadi bagian dari klaster keluarga. “Jadi di situ kesimpulannya banyak dari klaster keluarga. Itu baru kita mau rekap datanya. Berapa persen terhadap satu keluarga yang terpapar,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Hunian Tetap yang Dibangun di Luwu Utara Didesain Tahan Gempa

Dia juga menceritakan bahwa anaknya saat ini tengah dirawat akibat Covi19 dan sudah enam hari berlangsung. “Didiagnosis tipes, awalnya demam lalu dibawa ke rumah sakit. Kemudian di swab testb ternyata positif juga. Terpaksa masuk di ruangan isolasi,” kisahnya.

Dirinya juga mengonfirmasi, peningkatan itu sesuai dengan penelitian dari dokter anak yang mengatakan varian delta cepat menginfeksi anak. Di Makassar sendiri, untuk mendeteksi varian delta belum bisa. Fasilitas laboratorium belum mampu mendeteksi varian baru tersebut.

Timnya selama ini mengirimkan sampel ke Litbangkes untuk memeriksa validitasnya. Dan memastikan varian terbaru, delta telah masuk di Makassar. Vaksinasi terhadap anak khususnya umur 12-17 tahun tengah berjalan.

Di Makassar, kata dia, usia anak yang sudah tervaksin 0,70 persen. Memang, diakuinya belum banyak, walau sosialisasi sudah jalan. Disamping itu pemberian vaksin menjadi salah satu ikhtiar untuk mencapai herd immunity. Pun, salah satu langkah agar bisa menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

BACA JUGA:  Prodi PGMI UIN Alauddin Laksanakan Pengabdian Pendampingan Pembelajaran SD/MI

Dinas Pendidikan Makassar, menargetkan 38 ribu siswa SMPN, dapat menyelesaikan vaksinasi dalam dua bulan. Sejauh ini, Disdik sudah melakukan vaksinasi 1.000 siswa. Selanjutnya, bakal digelar rutin pada tiap Selasa dan Kamis.

Tercatat, vaksinasi terhadap siswa SMPN sudah dilakukan dua kali. Pertama, di SMPN 40 dan kedua di SMPN 12, beberapa waktu lalu yang bekerjasama dengan BIN.

“Jumlah siswa yang sudah divaksinasi kurang lebih 1.000 orang. Selasa depan akan kembali mengadakan vaksinasi di tiga titik sekolah. Meliputi SMPN 24, SMPN 7, dan SMPN 30. Begitu pun pada Kamis depan, ada tiga titik pemusatan vaksinasi di sekolah-sekolah yang dipilih,” kata Kabid Manajemen Guru dan Tenaga Kependidikan (MGTK) Disdik Makassar Pantja Nur Wahidin.

Pantja bilang, pekan depan mulai vaksinasi lagi dengan menggandeng Diskes Makassar. Tiap titik vaksinasi ditargetkan ada 1.000 siswa yang mengikuti. Saat berlakunya vaksinasi bagi anak-anak usia 12-17 tahun diawal Juli lalu, berbagai layanan vaksinasi telah dibuka untuk mereka.

BACA JUGA:  Rapid Test Massal Sasar Wilayah Perkantoran Bantaeng

Kendati demikian, apakah ada pembeda dalam pemberian vaksin Covid-19 dengan orang dewasa. Baik itu penyuntikan vaksin, takaran dosis, tahapan screening maupun lainnya.

Dokter Spesialis Obgyn RS Ibnu Sina, Dr dr Nasrudin Andi Mappaware menjelaskan pemberian vaksin bagi anak-anak tidak memiliki perbedaan. Artinya, sama dengan orang dewasa.

Namun begitu, hal yang mesti diperhatikan jika ingin menyuntikkan, vaksinator harus melihat kesiapan bagi anak-anak itu sendiri.

“Artinya begini, mereka yang ingin divaksin harus dalam kondisi yang stabil. Tidak dalam keadaan komplikasi dan sakit. Seperti demam, diare dan flu. Nah, ini yang mesti dihindari,” katanya.

Mengapa? Sebab, jika mengalami masalah tersebut, lalu tetap divaksin, kata dia, akan menimbulkan permasalahan. Sehingga dianggap vaksin yang bermasalah. (asr)

Komentar

News Feed